MEET A PANDA'S LOVER !

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Assalamu'alaikum wr. wb. Well, you have seen my blog... Know me farther, meet the real art and panda lover !

Kamis, 18 Desember 2008

Pengamen Bukan Sampah!

Ya, pengamen, penghibur jalanan yang menebar suara demi kepingan uang. Lalu apa menariknya? Yang menarik adalah Saya juga seorang pengamen, yang rerintihnya berusaha diredam dengan nama modern, musisi jalanan.

Apa bedanya, kehidupan tetaplah kehidupan, kami butuh makan, walau jalanan hanya menyediakan kekejaman. Di balik kantong-kantong tebal itu ada beras kami. Di balik pintu APV itu kami gantungkan mimpi-mimpi pagi.

Tapi tak banyak yang mengetahui, profesi pengamen ini ternyata punya nilai yang jauh berbeda di mata sebagian masyarakat. Contohnya, masyarakat Bandung menilai profesi ini sebagai suatu pekerjaan yang halal dan lumrah. Prinsipnya, mereka menilai pengamen adalah pekerja yang terkungkung oleh himpitan dunia. Beda dengan peminta-minta.

Masyarakat lainnya, khususnya tanah kelahiran saya di Minangkabau, memberi nilai minus terhadap posisi pengamen. Pengamen diidentikkan dengan pengangguran kurang kerjaan, yang kebetulan punya gitar, lalu terinspirasi untuk menjejalkan suara mereka ke kuping-kuping besi para penumpang bus atau angkot.

Masyarakat pun lebih memilih menutup telinga dan hati mereka daripada sekedar mendengar lagu yang sebenarnya tangis. Tak ada yang berusaha mendalami, tak seorang pun dari kami yang rela mencari nafkah dengan cara seperti ini.

Bukannya membanding-bandingkan masyarakat mana yang lebih baik, dan Anda tentu juga punya pandangan sendiri tentang kami. Ini cuma soal apresiasi. Menghargai makhluk pribumi yang mengais-ngais rezeki.

Saya? Saya hanya mewakili aspirasi. Pengalaman hidup membuat Saya membuka mata, betapa uang begitu mulia dan manusia seakan menghamba padanya. Walau tujuan 'ngamen' Saya berbeda dengan para sesepuh pengamen lainnya, yakni menggalang dana untuk pagelaran seni, tapi setidaknya Saya pernah merasakan secuil dari kehidupan mereka.

Tolong jangan palingkan wajahAnda, jangan tepiskan kaleng kami, karena kami bukan sampah yang harus di benci dan dibasmi.

Terima Kasih.

APA PANTAS ??

Ketika pertama kali memasuki bangku kuliah, mengenal tembok pendidikan bernama universitas, apakah yang sebenarnya di impikankan oleh seorang mahasiswa baru? Terutama bagi mereka yang membelah samudra, mengenyampingkan nelangsa, dan mengarahkan langkah pada rantau terjal demi menggapai cita- cita.

Banyak hal, tentu saja. Karena terpisah jauh dari keluarga, hal utama yang menjadi kekhawatiran adalah bagaimana membangun rasa kekeluargaan itu kembali, di tanah yang berbeda.

Rasa persaudaraan yang membuat kita merasa aman, rasa cinta yang membuat bahagia, dan teman- teman yang membuat kita nyaman, pastilah akan sangat mendukung dalam proses belajar dan berkarya. Pertanyaannya adalah apakah semudah itu mendapatkan rasa kekeluargaan dan rasa aman tersebut??

Di mulai dari proses penerimaan mahasiswa baru, jika boleh meminjam istilah otoriter, sebut saja OSPEK. Terjemahan bebasnya: Organisasi Sarat Pelecehan En Kekerasan.

Siapa bilang zaman STPDN sudah berakhir? Masih banyak mahasiswa baru yang menjadi tumbal 'kebuasan' seniornya. Memang hal itu tak selalu di kaitkan dengan penyiksaan fisik, bagaimana jika ada hal yang menyimpang dari nilai-nilai prinsip dan moral yang di pegang oleh seorang manusia normal..??

Wah, sangat di sayangkan, ternyata hal ini luput dari pengawasan. Dari balik jas almamater, para makhluk yang ingin di akui sebagai 'manusia' itu, telah menyiapkan sejuta skenario ampuh untuk menggembleng (baca: mengh_ajar) para kader muda dengan tujuan, yang katanya, berguna. Entah untuk apa. Tapi yang jelas, ya, have fun..

Tapi tunggu, ada pertanyaan lain yang tiba-tiba menekan.. Inikah yang disebut-sebut sebagai sistem turun temurun? Mengapa 'mereka' tiba-tiba berubah mengganas jika sudah dikaitkan dengan acara pengkaderan, penerimaan anggota, dan hal semacamnya, padahal dalam kesehariannya, 'mereka' bagaikan merpati surga.

Apa karena ingin dihargai? Namun terasa ada kejanggalan disini. Apa pantas, seorang calon abdi masyarakat berlaku semena- mena pada 'bawahan'nya dengan cara- cara yang teramat wajar tersebut..??

Yang jelas, karakter mereka yang sebenarnya, ternyata sangat jauh berbeda. Demi mendapatkan penghargaan semu dari orang lain, mereka berubah drastis (baca: mengganas). Dan justru hal itu dapat menjadi bumerang tersendiri, ketika mereka merasa telah jadi penguasa udara, mereka sebenarnya telah lama di cerca, tak lagi di dengar, mereka telah jatuh dalam drama yang mereka buat. Kenapa? Ternyata para junior lebih pintar dalam soal akting.

Hahaha... Maaf, saya tertawa, karena saya juga anak teater. Kami bisa pura- pura patuh, pura-pura tunduk, tapi ketika bosan, tak ada lagi kawan atau lawan. Semua satu. Menentang kekejaman yang tak perlu.

Mari sama- sama berakting.